Adopsi yang Tak Terbendung
Transformasi perbankan Indonesia sedang bergerak cepat menuju era intelligent banking. Survei Perbanas bersama IBM mencatat adopsi AI di sektor perbankan melonjak dari 30% pada 2024 menjadi 57,9% pada kuartal I-2026. Angka ini bukan sekadar statistik—ia mencerminkan pergeseran mendasar dalam cara bank beroperasi. OJK melalui Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Dian Ediana Rae menyatakan bahwa penggunaan AI telah bergeser dari machine learning sederhana dan otomatisasi proses menjadi pemanfaatan Generative AI hingga Agentic AI yang memiliki kemampuan mengambil keputusan secara lebih otonom.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II-2026, tumbuh 36,88% secara tahunan. Transaksi mobile tumbuh 31,39%, sementara QRIS tumbuh 100,12%. Dalam ekosistem dengan volume setinggi ini, kemampuan AI untuk memproses data secara real-time menjadi keniscayaan.
Fraud Detection: Pertempuran di Garis Depan
Deteksi fraud menjadi area di mana AI menunjukkan nilai paling nyata. CIMB Niaga memanfaatkan AI untuk mendeteksi transaksi yang tidak wajar dengan membandingkan pola kebiasaan nasabah. Lusiana Saleh, Head of Digital Banking & Contact Center CIMB Niaga, menjelaskan bahwa sistem akan mendeteksi anomali ketika nasabah yang biasanya bertransaksi Rp 100.000 tiba-tiba melakukan transaksi Rp 30 juta.
Bank BPD Bali mengembangkan konsep Security Anchor yang mencakup proses Deteksi, Proteksi, dan Respons melalui Fraud Detection System berbasis AI. Konsep ini diharapkan mampu mengawasi dan mencegah anomali transaksi secara real-time dan personalized. Sementara Superbank mengandalkan AI dengan hampir seluruh engineer-nya memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan kecepatan, efisiensi, dan akurasi dalam mendeteksi potensi fraud.
AI sebagai Mitra Relationship Manager
Di sisi layanan nasabah, AI tidak menggantikan manusia—ia memperkuatnya. CIMB Niaga melalui kolaborasi dengan Google Cloud dan Artefact menghadirkan dua agen AI: Relationship Manager AI Agent dan Contact Center AI Agent. Relationship Manager AI Agent membantu relationship manager memberikan layanan advisory yang lebih relevan, personal, dan proaktif dengan mengaitkan insight pasar dengan tahapan kehidupan nasabah.
Bank DBS Indonesia mengintegrasikan insight global dari CIO regional dengan AI dan machine learning untuk menghadirkan strategi investasi yang dipersonalisasi. Insight disampaikan melalui WhatsApp dan email untuk kemudian didiskusikan bersama relationship manager dan disesuaikan secara personal dengan aspirasi nasabah.
Tantangan: Deepfake dan Risiko Black Box
Namun, adopsi AI membawa risiko yang tidak bisa diabaikan. OJK mencatat bahwa risiko pada tingkat model meliputi deepfake yang dapat memperbesar fraud dan social engineering, masalah black box yang menyulitkan penjelasan keputusan, serta AI bias yang menghasilkan keputusan tidak adil. Dari sisi keamanan siber, bank harus waspada terhadap data poisoning, adversarial attacks, dan pencurian model AI.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) menunjukkan sejak November 2024 hingga Juni 2026 terdapat 1.379 laporan penipuan yang terindikasi memanfaatkan AI, dengan modus paling banyak adalah penipuan investasi menggunakan deepfake figur tertentu. OJK pun tengah mengembangkan aplikasi anti-scam sebagai upaya antisipasi dini.
