By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Reading: Profitabilitas Bank Digital Meningkat, tetapi OJK Ingatkan Tantangan Keberlanjutan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Keuangan & Perbankan

Profitabilitas Bank Digital Meningkat, tetapi OJK Ingatkan Tantangan Keberlanjutan

Bima
Last updated: September 29, 2026 7:09 am
Bima
2 weeks ago
Share
Profitabilitas Bank Digital Meningkat, tetapi OJK Ingatkan Tantangan Keberlanjutan
SHARE

Fase Baru Industri Bank Digital

Industri bank digital Indonesia memasuki fase baru yang ditandai dengan perbaikan profitabilitas. OJK mencatat bahwa per Maret 2026, Return on Assets (ROA) bank digital mencapai 2,87%, di atas ROA industri perbankan sebesar 2,50%. Rasio Net Interest Margin (NIM) bank digital bahkan berada di level 13,90%, jauh melampaui NIM industri yang hanya 4,49% .

Contents
Fase Baru Industri Bank DigitalPerbandingan dengan Negara TetanggaSeaBank: Studi Kasus Profitabilitas yang MengesankanTantangan Kemandirian Infrastruktur TIMenuju Pertumbuhan yang Berkelanjutan

Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi industri yang sebelumnya dikenal sebagai “pembakar uang” untuk mengakuisisi nasabah. Hampir seluruh bank digital di Indonesia telah mencatatkan profit pada laporan keuangan tahun 2025 .

Perbandingan dengan Negara Tetangga

Dian Ediana Rae memberikan konteks yang menarik dengan membandingkan kinerja bank digital Indonesia dengan negara tetangga. Di Singapura, bank digital sudah beroperasi hampir lima tahun, namun pada 2025 baru satu dari lima bank digital yang berhasil mencetak profit. Hong Kong mengalami hal serupa, dengan hanya tiga dari delapan bank digital yang mencapai breakeven meskipun telah beroperasi lebih dari lima tahun .

Perbandingan ini menunjukkan bahwa bank digital Indonesia patut diapresiasi, sekaligus menjadi pengingat bahwa semua model bisnis bank digital masih dalam tahap perkembangan. Namun dalam fase berikutnya, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba jangka pendek .

SeaBank: Studi Kasus Profitabilitas yang Mengesankan

SeaBank menjadi contoh nyata bank digital yang berhasil mencetak profitabilitas impresif. Pada semester I-2026, SeaBank membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp749,26 miliar, didorong oleh pertumbuhan total aset hingga Rp52,97 triliun . Penyaluran kredit tumbuh 53,1% secara tahunan menjadi Rp39,81 triliun, dengan NPL Gross terjaga di level 1,65% .

Yang menarik, DPK SeaBank terakumulasi sebesar Rp41,80 triliun, tumbuh 47,6% yoy, dengan porsi CASA mencapai 69,6% atau setara Rp29,10 triliun . Kemampuan menghimpun dana murah ini menjadi kunci efisiensi operasional, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang hanya 21,1% dan ROA di angka 3,9% .

Tantangan Kemandirian Infrastruktur TI

Meski profitabilitas meningkat, OJK mengingatkan beberapa tantangan krusial. Salah satunya adalah kemandirian infrastruktur TI, di mana masih banyak bank digital yang bergantung pada infrastruktur teknologi informasi pihak lain, khususnya induk perusahaan. Ketergantungan ini berdampak pada fleksibilitas bank digital dalam pengembangan TI dan inovasi digital .

Tantangan berikutnya adalah penguatan keamanan terhadap ancaman siber. OJK menyoroti sejumlah insiden serangan siber dan fraud yang terjadi di industri perbankan dalam beberapa waktu terakhir. Insiden tersebut tidak jarang bersumber dari pihak lain yang terkoneksi dengan bank, menciptakan celah keamanan pada platform aplikasi bank digital .

Menuju Pertumbuhan yang Berkelanjutan

Fokus pelaku bank digital kini bergeser dari sekadar membebankan biaya akuisisi nasabah menuju monetisasi ekosistem, cross-selling, pertumbuhan CASA, dan kredit yang lebih prudent . Industri sedang bertransisi dari growth-first ke sustainable growth.

Bank Neo Commerce, misalnya, mencatatkan laba bersih sebesar Rp565,69 miliar pada 2025 dan berhasil menunjukkan kinerja positif secara konsisten. Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menegaskan bahwa fokus utama perseroan adalah menjaga momentum pertumbuhan berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian .

Keberhasilan bank digital Indonesia untuk naik ke level berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan mereka membangun fondasi yang kuat, bukan sekadar mengejar pertumbuhan pengguna semata.

You Might Also Like

Transformasi Digital dan Kinerja Keuangan Bank Terbesar Indonesia 2026
Dampak Investasi Asing terhadap Bank-Bank di Indonesia
Strategi Kebijakan Moneter Bank Indonesia dalam Menanggapi Inflasi
Peran OJK dalam Menciptakan Sistem Keuangan yang Stabil dan Terpercaya
Personalisasi Radikal dan Efisiensi Biaya: Menyelami Penerapan Kecerdasan Artifisial di Jantung Operasional Bank 2026
Previous Article Hilirisasi Mineral Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Hilirisasi Mineral Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi
Next Article Mulai dari Satu Orang Terdekat: Sanct, Sosial Media Buatan Founder Indonesia, Hadir di App Store 30 September Mulai dari Satu Orang Terdekat: Sanct, Sosial Media Buatan Founder Indonesia, Hadir di App Store 30 September
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

vritimes @2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?