Fase Baru Industri Bank Digital
Industri bank digital Indonesia memasuki fase baru yang ditandai dengan perbaikan profitabilitas. OJK mencatat bahwa per Maret 2026, Return on Assets (ROA) bank digital mencapai 2,87%, di atas ROA industri perbankan sebesar 2,50%. Rasio Net Interest Margin (NIM) bank digital bahkan berada di level 13,90%, jauh melampaui NIM industri yang hanya 4,49% .
Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi industri yang sebelumnya dikenal sebagai “pembakar uang” untuk mengakuisisi nasabah. Hampir seluruh bank digital di Indonesia telah mencatatkan profit pada laporan keuangan tahun 2025 .
Perbandingan dengan Negara Tetangga
Dian Ediana Rae memberikan konteks yang menarik dengan membandingkan kinerja bank digital Indonesia dengan negara tetangga. Di Singapura, bank digital sudah beroperasi hampir lima tahun, namun pada 2025 baru satu dari lima bank digital yang berhasil mencetak profit. Hong Kong mengalami hal serupa, dengan hanya tiga dari delapan bank digital yang mencapai breakeven meskipun telah beroperasi lebih dari lima tahun .
Perbandingan ini menunjukkan bahwa bank digital Indonesia patut diapresiasi, sekaligus menjadi pengingat bahwa semua model bisnis bank digital masih dalam tahap perkembangan. Namun dalam fase berikutnya, ukuran keberhasilan tidak cukup hanya dilihat dari pertumbuhan jumlah pengguna atau laba jangka pendek .
SeaBank: Studi Kasus Profitabilitas yang Mengesankan
SeaBank menjadi contoh nyata bank digital yang berhasil mencetak profitabilitas impresif. Pada semester I-2026, SeaBank membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp749,26 miliar, didorong oleh pertumbuhan total aset hingga Rp52,97 triliun . Penyaluran kredit tumbuh 53,1% secara tahunan menjadi Rp39,81 triliun, dengan NPL Gross terjaga di level 1,65% .
Yang menarik, DPK SeaBank terakumulasi sebesar Rp41,80 triliun, tumbuh 47,6% yoy, dengan porsi CASA mencapai 69,6% atau setara Rp29,10 triliun . Kemampuan menghimpun dana murah ini menjadi kunci efisiensi operasional, tercermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang hanya 21,1% dan ROA di angka 3,9% .
Tantangan Kemandirian Infrastruktur TI
Meski profitabilitas meningkat, OJK mengingatkan beberapa tantangan krusial. Salah satunya adalah kemandirian infrastruktur TI, di mana masih banyak bank digital yang bergantung pada infrastruktur teknologi informasi pihak lain, khususnya induk perusahaan. Ketergantungan ini berdampak pada fleksibilitas bank digital dalam pengembangan TI dan inovasi digital .
Tantangan berikutnya adalah penguatan keamanan terhadap ancaman siber. OJK menyoroti sejumlah insiden serangan siber dan fraud yang terjadi di industri perbankan dalam beberapa waktu terakhir. Insiden tersebut tidak jarang bersumber dari pihak lain yang terkoneksi dengan bank, menciptakan celah keamanan pada platform aplikasi bank digital .
Menuju Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Fokus pelaku bank digital kini bergeser dari sekadar membebankan biaya akuisisi nasabah menuju monetisasi ekosistem, cross-selling, pertumbuhan CASA, dan kredit yang lebih prudent . Industri sedang bertransisi dari growth-first ke sustainable growth.
Bank Neo Commerce, misalnya, mencatatkan laba bersih sebesar Rp565,69 miliar pada 2025 dan berhasil menunjukkan kinerja positif secara konsisten. Direktur Utama Bank Neo Commerce, Eri Budiono, menegaskan bahwa fokus utama perseroan adalah menjaga momentum pertumbuhan berkualitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian .
Keberhasilan bank digital Indonesia untuk naik ke level berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan mereka membangun fondasi yang kuat, bukan sekadar mengejar pertumbuhan pengguna semata.
