Ketika Pasar Terlalu Pesimistis
Koreksi tajam yang melanda saham teknologi Indonesia sepanjang 2026 sering kali menutupi fakta bahwa tidak semua emiten mengalami penurunan fundamental. Sejumlah perusahaan justru mencatat perbaikan kinerja signifikan di tengah tekanan pasar, menciptakan peluang bagi investor yang mampu membaca sinyal di balik kebisingan.
Perbaikan Profitabilitas yang Terabaikan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi contoh paling mencolok. Pada kuartal II-2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar, mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut, dengan pendapatan bersih Rp 5,7 triliun dan adjusted EBITDA lebih dari Rp 1 triliun. Manajemen GOTO juga menegaskan berada di jalur tepat untuk mencapai pedoman EBITDA disesuaikan setahun penuh sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.
Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Indonesia, Henry Wibowo, memasang sikap bullish untuk teknologi bidang internet di 2026. Ia meyakini kinerja saham teknologi akan didorong oleh perbaikan tren metrik profitabilitas secara menyeluruh.
Data Center dan Ekonomi Digital yang Terus Tumbuh
Di segmen data center, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mencatat laba periode berjalan sebesar Rp 377,89 miliar untuk periode Januari hingga Maret 2026, meskipun turun 9,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) menempati posisi teratas emiten teknologi dengan pendapatan usaha terbesar pada kuartal II-2026, mencapai Rp 14,83 triliun atau naik 54,55 persen year-on-year.
Pendapatan BELI yang tumbuh lebih dari setengah miliar rupiah mencerminkan bahwa permintaan terhadap layanan digital di Indonesia tetap kuat, terlepas dari volatilitas harga saham. Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menyusul dengan Rp 13,63 triliun, diikuti GOTO dengan Rp 10,99 triliun dan Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan Rp 10,81 triliun.
Angin Segar dari Tren Suku Bunga
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai emiten teknologi dalam negeri akan mendapatkan angin segar dari tren suku bunga yang rendah. Perusahaan teknologi membutuhkan modal tinggi untuk ekspansi, dan suku bunga rendah membuka potensi dana yang masuk untuk diinvestasikan pada perusahaan teknologi yang unggul.
Diversifikasi Sub-Sektor sebagai Strategi
Sektor teknologi BEI tidak monolitik. Di bawah klasifikasi IDX-IC, sektor ini mencakup pusat data, perangkat lunak dan layanan TI, e-commerce, hingga platform digital. Diversifikasi sub-sektor ini menciptakan peluang investasi yang lebih terukur, di mana investor dapat memilih emiten berdasarkan profil risiko dan prospek pertumbuhan masing-masing sub-sektor.
Mayoritas emiten teknologi — 29 dari 47 atau sekitar 62 persen — masih berada di Papan Pengembangan, mencerminkan bahwa sebagian besar perusahaan teknologi di BEI masih dalam fase ekspansi. Fase ini menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang, meskipun dengan risiko yang lebih tinggi.
Momentum IPO yang Berlanjut
OCBC Sekuritas menilai saham sektor teknologi dan konsumer berpotensi menguat pada 2026, dengan rencana membawa empat perusahaan IPO di BEI. Sucor Sekuritas juga menyiapkan dua calon emiten di sektor teknologi dan media yang menunggu waktu tepat untuk IPO antara semester II-2026 atau semester I-2027. Pipeline IPO ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku usaha terhadap pasar modal Indonesia tetap terjaga.
