By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Reading: Peluang Tersembunyi di Balik Koreksi Saham Teknologi Indonesia
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Pasar Saham & Investasi

Peluang Tersembunyi di Balik Koreksi Saham Teknologi Indonesia

Bima
Last updated: October 1, 2026 6:46 am
Bima
1 week ago
Share
Peluang Tersembunyi di Balik Koreksi Saham Teknologi Indonesia
SHARE

Ketika Pasar Terlalu Pesimistis

Koreksi tajam yang melanda saham teknologi Indonesia sepanjang 2026 sering kali menutupi fakta bahwa tidak semua emiten mengalami penurunan fundamental. Sejumlah perusahaan justru mencatat perbaikan kinerja signifikan di tengah tekanan pasar, menciptakan peluang bagi investor yang mampu membaca sinyal di balik kebisingan.

Contents
Ketika Pasar Terlalu PesimistisPerbaikan Profitabilitas yang TerabaikanData Center dan Ekonomi Digital yang Terus TumbuhAngin Segar dari Tren Suku BungaDiversifikasi Sub-Sektor sebagai StrategiMomentum IPO yang Berlanjut

Perbaikan Profitabilitas yang Terabaikan

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi contoh paling mencolok. Pada kuartal II-2026, perseroan kembali mencetak laba bersih sebesar Rp 252 miliar, mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut, dengan pendapatan bersih Rp 5,7 triliun dan adjusted EBITDA lebih dari Rp 1 triliun. Manajemen GOTO juga menegaskan berada di jalur tepat untuk mencapai pedoman EBITDA disesuaikan setahun penuh sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun.

Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Indonesia, Henry Wibowo, memasang sikap bullish untuk teknologi bidang internet di 2026. Ia meyakini kinerja saham teknologi akan didorong oleh perbaikan tren metrik profitabilitas secara menyeluruh.

Data Center dan Ekonomi Digital yang Terus Tumbuh

Di segmen data center, PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mencatat laba periode berjalan sebesar Rp 377,89 miliar untuk periode Januari hingga Maret 2026, meskipun turun 9,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) menempati posisi teratas emiten teknologi dengan pendapatan usaha terbesar pada kuartal II-2026, mencapai Rp 14,83 triliun atau naik 54,55 persen year-on-year.

Pendapatan BELI yang tumbuh lebih dari setengah miliar rupiah mencerminkan bahwa permintaan terhadap layanan digital di Indonesia tetap kuat, terlepas dari volatilitas harga saham. Metrodata Electronics Tbk (MTDL) menyusul dengan Rp 13,63 triliun, diikuti GOTO dengan Rp 10,99 triliun dan Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dengan Rp 10,81 triliun.

Angin Segar dari Tren Suku Bunga

Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai emiten teknologi dalam negeri akan mendapatkan angin segar dari tren suku bunga yang rendah. Perusahaan teknologi membutuhkan modal tinggi untuk ekspansi, dan suku bunga rendah membuka potensi dana yang masuk untuk diinvestasikan pada perusahaan teknologi yang unggul.

Diversifikasi Sub-Sektor sebagai Strategi

Sektor teknologi BEI tidak monolitik. Di bawah klasifikasi IDX-IC, sektor ini mencakup pusat data, perangkat lunak dan layanan TI, e-commerce, hingga platform digital. Diversifikasi sub-sektor ini menciptakan peluang investasi yang lebih terukur, di mana investor dapat memilih emiten berdasarkan profil risiko dan prospek pertumbuhan masing-masing sub-sektor.

Mayoritas emiten teknologi — 29 dari 47 atau sekitar 62 persen — masih berada di Papan Pengembangan, mencerminkan bahwa sebagian besar perusahaan teknologi di BEI masih dalam fase ekspansi. Fase ini menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang, meskipun dengan risiko yang lebih tinggi.

Momentum IPO yang Berlanjut

OCBC Sekuritas menilai saham sektor teknologi dan konsumer berpotensi menguat pada 2026, dengan rencana membawa empat perusahaan IPO di BEI. Sucor Sekuritas juga menyiapkan dua calon emiten di sektor teknologi dan media yang menunggu waktu tepat untuk IPO antara semester II-2026 atau semester I-2027. Pipeline IPO ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelaku usaha terhadap pasar modal Indonesia tetap terjaga.

You Might Also Like

Kebijakan Pemerintah dan Implikasinya terhadap Pasar Saham Indonesia
Kombinasi Saham, SBN, dan Pasar Uang untuk Menjaga Portofolio saat Suku Bunga Berubah
Dampak Suku Bunga Acuan BI Terhadap Obligasi dan Saham: Pelajaran dari Dinamika Pasar 2026
Meningkatkan Akses dan Partisipasi Masyarakat dalam Pasar Modal Indonesia
Hubungan IHSG, Nilai Tukar Rupiah, dan Arus Modal Asing dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi
Previous Article Open Pit Mining dan Drone: Cara Survey Tambang Terbuka Lebih Cepat dan Aman Open Pit Mining dan Drone: Cara Survey Tambang Terbuka Lebih Cepat dan Aman
Next Article Sehari Setelah Hadir di Indonesia, Sanct Rilis Episode 5: Anak Rantau Pulang Diam-Diam di Hari Ulang Tahun Papa Sehari Setelah Hadir di Indonesia, Sanct Rilis Episode 5: Anak Rantau Pulang Diam-Diam di Hari Ulang Tahun Papa
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

vritimes @2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?