Di balik gemerlap industri fesyen global, ada nama Kania Prameswari (28) yang berhasil membuktikan bahwa budaya lokal adalah aset paling berharga. Pada gelaran Paris Fashion Week 2026, brand fesyen milik Kania, Amerta Wastra, berhasil memukau para kritikus mode dunia dengan koleksi terbarunya yang memadukan tenun ikat Sumba dengan teknik laser cutting modern.
Perjalanan Kania tidak semudah membalikkan telapak tangan. Berawal dari sebuah UMKM kecil di kawasan Malioboro pada 2022, Kania sempat diremehkan karena dianggap terlalu idealis. Namun, kegigihannya dalam meriset material dan membangun hubungan langsung dengan para penenun perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) membuahkan hasil yang luar biasa di tahun 2026.<h3>Teknologi Fesyen sebagai Diferensiasi</h3>
Berbeda dengan brand fesyen lokal pada umumnya, Kania berinvestasi besar pada Fashion Technology (FashTech). Ia menggunakan software 3D untuk membuat prototipe desain sebelum dikirim ke penenun, sehingga meminimalisir kesalahan produksi dan limbah kain. Inovasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi biaya hingga 40%, tetapi juga sejalan dengan prinsip sustainable fashion yang sedang digandrungi pasar global.
Mengutip data dari Indonesia Fashion Chamber (IFC), kontribusi subsektor fesyen terhadap PDB ekonomi kreatif di 2026 diperkirakan mencapai 25%. Kania menempatkan dirinya di puncak piramida tersebut dengan menargetkan pasar luxury yang margin keuntungannya sangat besar.<h3>Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Berbasis Hulu</h3>
Keunikan bisnis Kania terletak pada model bisnisnya yang bersifat circular. Ia tidak hanya mengambil kain dari pengrajin, tetapi juga membangun sekolah tenun gratis di tiga desa di Sumba dan Flores. Program ini didanai dari sebagian keuntungan penjualan produk Amerta Wastra.
“Kami ingin perempuan di desa tidak hanya menjadi buruh tenun, tetapi menjadi mitra bisnis yang punya daya tawar. Di 2026, definisi sukses bagi saya adalah ketika seorang penenun di desa terpencil bisa membeli mobil dari hasil karyanya sendiri,” tegas Kania.
Konsistensi Kania dalam mengangkat kearifan lokal ke panggung dunia menjadi bukti nyata bahwa pengusaha muda Indonesia tidak hanya jago dalam hal digital, tetapi juga mampu memenangkan persaingan di industri kreatif yang membutuhkan cita rasa seni tinggi dan pemahaman budaya yang dalam.
