By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Reading: IndCham dan Kedutaan Besar India Dorong Kepemimpinan Perempuan di Indonesia lewat Diskusi Hari Kartini 2026
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Press Release

IndCham dan Kedutaan Besar India Dorong Kepemimpinan Perempuan di Indonesia lewat Diskusi Hari Kartini 2026

Bima
Last updated: April 21, 2026 4:04 am
Bima
4 months ago
Share
IndCham dan Kedutaan Besar India Dorong Kepemimpinan Perempuan di Indonesia lewat Diskusi Hari Kartini 2026
SHARE

Jakarta — IndCham bekerja sama dengan Kedutaan Besar India di Jakarta menggelar forum diskusi Hari Kartini 2026 di Wayang Auditorium, Kedutaan Besar India, Jakarta, Senin (20/4/2026). Mengusung tema “Celebrating Women Thought Leaders”, acara ini menghadirkan sejumlah tokoh perempuan lintas sektor untuk membahas kepemimpinan, kesetaraan, dan masa depan perempuan di tengah perubahan global.

Contents
Warisan Kartini dan Relevansinya Hari IniKepemimpinan Perempuan dalam Kebijakan, Pembangunan, dan KesehatanPeran Laki-laki dalam Mendorong KesetaraanPerempuan dalam Media, Teknologi, dan Ekonomi KreatifMendorong Aksi Nyata untuk Kesetaraan

Forum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi atas warisan R.A. Kartini, tetapi juga menegaskan peran perempuan sebagai penggerak utama dalam pembangunan ekonomi, kesehatan, hingga teknologi di Indonesia.

Warisan Kartini dan Relevansinya Hari Ini

Acara dibuka oleh Joint Secretary IndCham, Bipin Mishra, yang menekankan bahwa perempuan saat ini tidak lagi sekedar menjadi bagian dari kemajuan, tetapi telah berada di garis depan sebagai pemimpin perubahan.

“Hari ini adalah tentang perempuan yang bukan hanya menjadi bagian dari kemajuan, tetapi juga memimpin kemajuan itu sendiri,” ujarnya.

Sambutan resmi kemudian disampaikan oleh Malvika Priyadarshani dari Kedutaan Besar India di Jakarta yang mengangkat kembali nilai-nilai perjuangan Kartini, terutama dalam hal pendidikan dan kesetaraan.

Ia menegaskan bahwa pemikiran Kartini tetap relevan hingga saat ini. “Di jantung perjuangan Kartini adalah keyakinan sederhana namun kuat bahwa perempuan berhak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi,” ujarnya.

Malvika juga mengingatkan bahwa perjuangan tersebut belum sepenuhnya selesai dan membutuhkan keberanian untuk terus mempertanyakan norma serta bertindak nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kepemimpinan Perempuan dalam Kebijakan, Pembangunan, dan Kesehatan

Panel pertama menghadirkan Gita Sabharwal sebagai United Nations Resident Coordinator Indonesia dan Leona A. Karnali sebagai CEO Primaya Hospital, yang dimoderatori oleh Aasthaa Maheshwari.

Dalam diskusi tersebut, Gita menekankan bahwa kehadiran perempuan dalam ruang pengambilan keputusan membawa perspektif yang berbeda dan berdampak nyata terhadap keberlanjutan kebijakan.

“Ketika perempuan dilibatkan dalam proses penyelesaian konflik, hasilnya cenderung lebih bertahan dan tidak mudah runtuh,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan dalam pemberdayaan perempuan, namun masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam hal keterwakilan di posisi strategis.

“Ini bukan soal kurangnya talenta, karena talenta perempuan di Indonesia sangat banyak. Tantangannya ada pada faktor sistemik yang masih menjadi hambatan,” jelasnya.

Sementara itu, Leona menekankan pentingnya kolaborasi lintas gender dalam membangun sistem kesehatan yang lebih baik dan inklusif.

“Kita semua bekerja untuk satu tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas layanan kesehatan,” ujarnya.

Ia juga membagikan prinsip kepemimpinan yang ia pegang dalam membangun tim.

“Cintai diri sendiri, cintai tim, dan cintai pekerjaan,” katanya.

Peran Laki-laki dalam Mendorong Kesetaraan

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, dalam pidato kuncinya menyoroti aspek yang sering luput dalam diskusi kesetaraan gender, yaitu peran laki-laki sebagai bagian dari solusi.

Ia menegaskan bahwa perubahan tidak bisa hanya dibebankan kepada perempuan.

“Kalau kondisi perempuan ingin menjadi lebih baik, maka laki-laki juga harus berubah dan menciptakan ruang serta peluang,” ujarnya.

Dalam pidatonya, ia juga berbagi refleksi personal sebagai seorang ayah dari dua anak perempuan yang menghadapi tantangan di dunia kerja. Ia menekankan bahwa pengalaman tersebut membuka pemahamannya terhadap realitas yang dihadapi perempuan di lingkungan profesional.

Ia juga mengangkat contoh sejarah dari India, yakni sosok reformis sosial Maharshi Karve, yang berani menentang norma sosial pada masanya untuk memperjuangkan pendidikan dan hak perempuan.

“Perubahan nyata terjadi ketika ada keberanian untuk bertindak, bahkan ketika harus menghadapi tekanan sosial,” ujarnya, merujuk pada perjuangan tokoh tersebut.

Lebih lanjut, Sandeep menegaskan bahwa kesetaraan gender membutuhkan perubahan pola pikir yang lebih luas di masyarakat.

“Kesetaraan tidak akan tercapai jika hanya perempuan yang bergerak. Ini harus menjadi tanggung jawab bersama, termasuk laki-laki dalam posisi kepemimpinan,” tambahnya.

Perempuan dalam Media, Teknologi, dan Ekonomi Kreatif

Panel kedua menghadirkan Svida Alisjahbana sebagai CEO GCM Group sekaligus Chair Jakarta Fashion Week, serta Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Commissioner GoTo Group, dengan moderator Aparna Saxena.

Diskusi ini menyoroti perjalanan karier, kepemimpinan, serta tantangan perempuan dalam sektor yang terus berkembang, khususnya media dan teknologi.

Catherine menekankan pentingnya keberanian untuk terus berkembang di tengah perubahan yang cepat, terutama dengan hadirnya teknologi baru.

“Ketika kita mulai merasa nyaman, mungkin justru itu saatnya untuk menaikkan standar dan keluar dari zona nyaman,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa kesetaraan tidak berarti menyeragamkan peran antara laki-laki dan perempuan.

“Setara tidak berarti harus sama, justru perbedaan itu yang menjadi kekuatan dalam kepemimpinan,” katanya.

Sementara itu, Svita menyoroti pentingnya kesiapan dalam menangkap peluang sebagai kunci kesuksesan.

“Keberuntungan itu terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa perempuan perlu terus membangun ekosistem yang saling mendukung agar dapat berkembang secara berkelanjutan di berbagai sektor.

Mendorong Aksi Nyata untuk Kesetaraan

Diskusi sepanjang acara menegaskan bahwa semangat Kartini tetap relevan dalam konteks modern, terutama dalam mendorong perempuan untuk mengambil peran kepemimpinan di berbagai bidang.

Meskipun berbagai kemajuan telah dicapai, forum ini menyoroti bahwa perjalanan menuju kesetaraan masih panjang dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.

Melalui sinergi antara IndCham, Kedutaan Besar India, serta para pemangku kepentingan, acara ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk mendorong lebih banyak perempuan tampil sebagai pemimpin dan agen perubahan di masa depan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

You Might Also Like

BRI KK Plaza Kenari Mas Hadirkan Layanan Weekend Banking bagi Pengunjung, Pedagang, dan Nasabah Umum
E-Wallet Makin Jadi Andalan: Cara Kerja, Tren Pengguna, dan Biayanya
Libur Hari Raya Iduladha 1447H/2026, Ruas Tol Semarang ABC Layani Mobilitas Wisata dan Silaturahmi Masyarakat
Perjalanan Mahasiswa BINUS University dalam Meraih Juara 3 Pilmapres LLDIKTI Wilayah III
Kartini 2026: Perempuan Bekerja Makin Stres, Tren ‘Self-Care’ Jadi Bentuk Emansipasi Baru
Previous Article Tampil Beda dengan Motor Baru Premium, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Mulai 0,7% Tampil Beda dengan Motor Baru Premium, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Mulai 0,7%
Next Article Kenapa Arus Kas Penting untuk Menilai Kesehatan Bisnis Kenapa Arus Kas Penting untuk Menilai Kesehatan Bisnis
about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

vritimes @2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?