By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Reading: Fintech Memperluas Inklusi Keuangan, tetapi Literasi Masyarakat Masih Menjadi Tantangan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Teknologi & Startup

Fintech Memperluas Inklusi Keuangan, tetapi Literasi Masyarakat Masih Menjadi Tantangan

Bima
Last updated: July 14, 2026 9:38 am
Bima
2 days ago
Share
SHARE

Fintech sering dipandang sebagai jalan cepat untuk memperluas inklusi keuangan Indonesia. Melalui telepon seluler, masyarakat dapat membuka rekening, membayar tagihan, membeli produk investasi, mengirim uang, atau mengajukan pembiayaan tanpa mendatangi kantor layanan.

Contents
Akses dan Pemahaman Belum Berjalan SeimbangKemudahan Digital Dapat Menutupi BiayaFintech Ilegal Memanfaatkan Kebutuhan MendesakInklusi Berkualitas Lebih Penting daripada Jumlah PenggunaTanggung Jawab Bersama dalam Ekosistem Digital

Namun, peningkatan akses tidak otomatis membuat masyarakat memahami risiko. Seseorang dapat memiliki banyak aplikasi keuangan, tetapi belum tentu mengetahui biaya, hak konsumen, keamanan data, dan konsekuensi dari setiap produk yang digunakan.

Akses dan Pemahaman Belum Berjalan Seimbang

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2024 mencatat indeks literasi keuangan sebesar 65,43 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 75,02 persen. Hasil tersebut diumumkan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan Badan Pusat Statistik dalam siaran resmi SNLIK 2024.

Selisih antara inklusi dan literasi menunjukkan adanya masyarakat yang telah menggunakan produk keuangan, tetapi pemahamannya belum setara dengan tingkat penggunaannya.

Kesenjangan ini penting dalam industri fintech karena keputusan dapat dibuat sangat cepat. Konsumen cukup menekan beberapa tombol untuk menerima pinjaman, membeli aset investasi, atau memberikan izin akses data.

Kemudahan Digital Dapat Menutupi Biaya

Tampilan aplikasi yang sederhana dapat membuat produk keuangan terlihat lebih mudah daripada kenyataannya. Promosi sering menonjolkan pencairan cepat, cicilan ringan, atau imbal hasil menarik, sementara biaya, denda, dan risiko ditampilkan dengan ukuran lebih kecil.

Sebagai contoh, pekerja informal yang mengalami kebutuhan mendesak dapat menerima pinjaman digital tanpa menghitung total pembayaran. Ketika jatuh tempo tiba, ia mungkin mengambil pinjaman baru untuk menutup kewajiban lama.

Pola tersebut dapat menciptakan lingkaran utang. Masalahnya bukan semata-mata berasal dari teknologi, melainkan dari desain produk, pemasaran agresif, dan rendahnya pemahaman pengguna.

Fintech Ilegal Memanfaatkan Kebutuhan Mendesak

Kesenjangan literasi juga dimanfaatkan oleh penyelenggara ilegal. Mereka sering menawarkan proses tanpa pemeriksaan, pencairan sangat cepat, dan persyaratan minimal.

Konsumen yang tidak memeriksa legalitas perusahaan dapat memberikan akses terhadap kontak, foto, lokasi, dan informasi pribadi. Data tersebut kemudian berisiko digunakan untuk intimidasi atau penagihan yang melanggar etika.

Modus penipuan juga berkembang mengikuti tren. Pelaku dapat menggunakan aplikasi tiruan, akun layanan pelanggan palsu, atau pesan yang mengatasnamakan lembaga keuangan resmi.

Karena itu, kemampuan membedakan platform berizin dan layanan ilegal menjadi bagian penting dari literasi keuangan digital.

Inklusi Berkualitas Lebih Penting daripada Jumlah Pengguna

Keberhasilan inklusi keuangan tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya akun atau transaksi. Kualitas penggunaan perlu diperhatikan.

Layanan keuangan idealnya membantu masyarakat menyimpan dana dengan aman, menghadapi keadaan darurat, mengembangkan usaha, dan merencanakan kebutuhan jangka panjang. Apabila teknologi justru mendorong utang konsumtif yang tidak terkendali, tujuan inklusi menjadi tidak tercapai.

Perusahaan fintech dapat membantu melalui penjelasan biaya yang sederhana, simulasi pembayaran, peringatan risiko, dan pemeriksaan kemampuan finansial. Fitur edukasi sebaiknya ditempatkan sebelum transaksi, bukan hanya di halaman bantuan yang jarang dibaca.

Tanggung Jawab Bersama dalam Ekosistem Digital

Pemerintah, sekolah, komunitas, perusahaan teknologi, bank, dan media memiliki peran dalam meningkatkan literasi. Edukasi tidak cukup berbentuk definisi produk. Masyarakat membutuhkan contoh praktis mengenai cara memeriksa legalitas, menghitung biaya, melindungi kata sandi, dan melaporkan penipuan.

Fintech tetap mempunyai peluang besar untuk memperluas layanan ke daerah yang sulit dijangkau kantor fisik. Namun, akses yang luas harus disertai pemahaman yang memadai.

Masa depan sistem keuangan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh seberapa cepat masyarakat mengadopsi teknologi, tetapi juga oleh seberapa aman dan bertanggung jawab teknologi tersebut digunakan.

You Might Also Like

Dari Klik ke Kiriman: Bagaimana E-commerce Mempercepat Transformasi Logistik dan Pembayaran Digital di Indonesia
Modal Ventura sebagai Penggerak Inovasi Start-up Indonesia
Transformasi Industri Indonesia Melalui AI, IoT, dan Otomatisasi
Kendala yang Menghambat Pertumbuhan Start-up Teknologi di Indonesia
Previous Article WSBP Tingkatkan Kontribusi dalam Pembangunan Infrastruktur Nasional, Dorong Penguatan Kinerja Perusahaan
Next Article Harga Emas Hari Ini Berpeluang Rebound, Dupoin Futures: Tren Bearish Masih Mendominasi
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

vritimes @2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?