By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Reading: Sachin Gopalan Dorong IndoFringe dan Indonesia Open Network Jadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Press Release

Sachin Gopalan Dorong IndoFringe dan Indonesia Open Network Jadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda

Bima
Last updated: May 18, 2026 5:01 am
Bima
5 months ago
Share
Sachin Gopalan Dorong IndoFringe dan Indonesia Open Network Jadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif Anak Muda
SHARE

Jakarta — Pendiri sekaligus penggerak IndoFringe, Sachin Gopalan, menegaskan pentingnya transformasi digital dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif bagi generasi muda Indonesia. Hal itu disampaikannya dalam sesi talkshow “Digitizing Culture and Creativity: Powering the Next Wave of Creative Economy” dalam rangkaian hari pertama Jakarta Marketing Week 2026 di Kota Kasablanka, Rabu (6/5/2026) lalu.

Contents
IndoFringe Siapkan Marketplace untuk Talenta MudaTerhubung dengan Indonesia Open NetworkDari Festival Seni Menjadi Gerakan NasionalMembuka Ruang untuk Semua Bidang KreatifPesan untuk Generasi Muda

Dalam paparannya, Sachin menjelaskan bahwa IndoFringe tidak lagi sekedar festival seni dan kreativitas anak muda, tetapi tengah berkembang menjadi gerakan ekonomi kreatif berbasis digital yang terhubung dengan Indonesia Open Network (ION), sebuah infrastruktur perdagangan digital terbuka yang didukung pemerintah.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjawab tantangan terbesar para pelaku ekonomi kreatif saat ini, yakni sulitnya memperoleh pasar dan tingginya biaya platform digital konvensional.

“Creative economy tidak jalan karena komisi strukturnya terlalu mahal. Banyak platform mengambil komisi 25 sampai 40 persen. Karena itu kita bangun Indonesia Open Network dengan biaya jauh lebih rendah, sekitar dua sampai tiga persen,” kata Sachin dalam sesi diskusi tersebut.

IndoFringe Siapkan Marketplace untuk Talenta Muda

Sachin menjelaskan bahwa timnya kini sedang mengembangkan platform digital baru untuk IndoFringe yang ditargetkan meluncur pada Oktober mendatang. Platform tersebut dirancang sebagai marketplace bagi siswa, mahasiswa, hingga anak muda yang belum memiliki pekerjaan tetap agar dapat menawarkan keterampilan mereka secara langsung kepada pasar.

Ia mencontohkan berbagai jenis pekerjaan kreatif yang bisa diakses melalui platform tersebut, mulai dari fotografi, videografi, desain grafis, penulisan konten, hingga jasa kreatif lainnya yang berkaitan dengan ekonomi digital.

Menurutnya, banyak anak muda sebenarnya memiliki bakat dan kemampuan, tetapi tidak memiliki akses terhadap pasar. Karena itu, platform digital tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara talenta muda dengan kebutuhan industri kreatif.

“Kalau punya talent, mereka bisa pasarkan lewat digital dan dapat short project. Mungkin nilainya tidak besar, tapi bisa jadi source of income buat anak muda,” ujarnya.

Ia menambahkan, platform itu nantinya juga akan memiliki fitur jual beli, penyewaan alat, layanan kreatif, pencarian kerja, hingga konektivitas dengan aplikasi lain yang tergabung dalam ekosistem open network.

Terhubung dengan Indonesia Open Network

Dalam kesempatan itu, Sachin juga menyoroti peran Indonesia Open Network atau ION yang disebutnya akan menjadi pondasi penting bagi demokratisasi ekonomi digital di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa ION merupakan public infrastructure untuk commerce yang dikembangkan bersama pemerintah, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta Kementerian UMKM Republik Indonesia, agar masyarakat dapat mengakses layanan digital dengan biaya lebih murah.

“Kalau platform mengambil komisi terlalu besar, akhirnya yang kaya hanya platform. Pemerintah ingin commerce lebih demokratis sehingga masyarakat juga bisa menikmati manfaat ekonomi digital,” katanya.

Melalui koneksi dengan ION, talenta-talenta kreatif di IndoFringe nantinya dapat menawarkan jasa mereka melalui berbagai aplikasi besar yang telah terhubung dalam jaringan tersebut, termasuk operator telekomunikasi dan platform digital lain.

Sachin menilai model open network akan membuka peluang lebih luas bagi pekerja kreatif independen seperti MC, moderator, penyanyi, pelukis, hingga content creator untuk memperoleh pasar tanpa terbebani biaya tinggi.

Dari Festival Seni Menjadi Gerakan Nasional

IndoFringe sendiri telah berkembang pesat dalam tiga tahun terakhir. Sachin menyebut lebih dari 500 sekolah telah terlibat dalam berbagai festival yang diselenggarakan pihaknya.

Ia mengungkapkan bahwa awalnya banyak sekolah ragu mengikuti festival lintas sekolah karena khawatir terjadi konflik antar pelajar. Namun pengalaman selama beberapa tahun justru menunjukkan kegiatan seni mampu membangun suasana yang lebih damai dan kolaboratif.

“Kegiatan ekonomi kreatif membuat anak muda lebih bersahabat. Tidak seperti kompetisi olahraga yang kadang terlalu kompetitif,” ujarnya.

Ke depan, IndoFringe menargetkan ekspansi lebih besar dengan melibatkan kampus-kampus dan komunitas kreatif di berbagai daerah. Bahkan pada 2028, mereka menargetkan penyelenggaraan 500 festival serentak di seluruh Indonesia dalam waktu 10 hari.

Menurut Sachin, digitalisasi menjadi kunci utama untuk mewujudkan target ambisius tersebut karena seluruh koordinasi, mobilisasi relawan, hingga promosi kegiatan akan terhubung melalui platform digital.

Membuka Ruang untuk Semua Bidang Kreatif

Sachin juga menegaskan bahwa IndoFringe tidak membatasi diri hanya pada seni pertunjukan. Menurutnya, seluruh aktivitas yang melibatkan kreativitas, komunikasi, exhibition, hingga teknologi dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.

Dalam sesi tanya jawab dengan mahasiswa yang hadir di Jakarta Marketing Week 2026, ia menyebut bidang seperti teknologi, digital content, hingga kompetisi elektronika nasional juga dapat menjadi bagian dari IndoFringe selama dikemas dalam format exhibition atau performance.

Ia menilai ekonomi kreatif saat ini telah berkembang jauh lebih luas, termasuk di bidang content creator, videografi, script writing, gaming, hingga digital exhibition.

“Kita ingin semua orang bisa membawa ide dan mengkomersialisasikannya. Jadi bukan sekadar kegiatan sukarela, tetapi juga menjadi business proposition,” katanya.

Pesan untuk Generasi Muda

Menutup sesi diskusi, Sachin mengingatkan generasi muda agar tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dan kecerdasan buatan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kemampuan komunikasi dan keberanian untuk bertanya tetap menjadi keterampilan paling penting di era digital.

“Sekarang semua bisa dicari di Google atau ChatGPT, tapi jangan lupa human interaction tetap penting. Human in the loop itu harus tetap ada,” ujarnya di hadapan peserta Jakarta Marketing Week 2026.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

You Might Also Like

Info Kesehatan : Skrining Bisa Cegah Thalassemia Sejak Dini
Holding Perkebunan Nusantara Terus Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat melalui Seminar RS Sri Pamela Torgamba
PTPN Group melalui PTPN IV PalmCo Perkuat Kemitraan Strategis dengan Petani melalui PSR Awards 2026
Siber Group Perkuat Layanan Perlindungan Reputasi Digital dan Privasi di Indonesia
Mengupas Sektor Perdagangan Afrika Selatan di Kelas BINUS International
Previous Article SUCOFINDO Dorong Ekosistem Energi Terbarukan Lewat Layanan TIC Terintegrasi SUCOFINDO Dorong Ekosistem Energi Terbarukan Lewat Layanan TIC Terintegrasi
Next Article 17 Ribu Kilometer Demi Tanah: Perjalanan Konstantin Zulske Melintasi Negara dan Benua 17 Ribu Kilometer Demi Tanah: Perjalanan Konstantin Zulske Melintasi Negara dan Benua
about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

vritimes @2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?