Akuakultur menjadi salah satu sektor pangan strategis Indonesia. Namun, di balik pertumbuhannya, praktik budidaya yang tidak efisien menyisakan limbah pakan dan sedimen organik yang mencemari perairan. Sejumlah startup green tech kini menghadirkan solusi presisi berbasis internet of things untuk menekan dampak lingkungan sekaligus meningkatkan hasil panen.
Akuakultur Indonesia Tumbuh, tapi Menyimpan Risiko Lingkungan
Kementerian Kelautan dan Perikanan memperkirakan produksi perikanan budidaya Indonesia pada 2026 mencapai 18,4 juta ton, didorong oleh komoditas udang, lele, dan rumput laut. Pertumbuhan ini membawa konsekuensi berupa peningkatan limbah pakan, feses, dan senyawa nitrogen di perairan tambak. Data produksi dapat diakses melalui https://kkp.go.id.
Pada tambak konvensional, pakan yang diberikan sering berlebihan. Sisa pakan yang tidak termakan mengendap di dasar tambak dan memicu pembentukan gas metana serta amonia. Kondisi ini menurunkan kualitas air dan memicu penyakit pada komoditas budidaya.
eFishery dan JALA Menghadirkan Budidaya Presisi
eFishery memperkenalkan teknologi pemberian pakan otomatis berbasis sensor. Alat ini mendeteksi tingkat nafsu makan ikan melalui getaran di air, lalu menyesuaikan dosis pakan secara real-time. Dengan cara ini, pakan tidak terbuang sia-sia.
JALA fokus pada pemantauan kualitas air tambak udang. Sensor IoT-nya mengukur oksigen terlarut, suhu, pH, dan kekeruhan air setiap beberapa menit. Data tersebut dikirim ke aplikasi sehingga petambak dapat mengambil keputusan cepat sebelum kondisi air memburuk.
Reduksi Limbah Pakan dan Bahan Kimia
Implementasi pakan otomatis eFishery dilaporkan mampu menekan rasio konversi pakan hingga 15–20 persen. Artinya, budidaya menghasilkan berat ikan yang sama dengan pakan lebih sedikit. Hal ini mengurangi biaya produksi dan menurunkan limbah organik yang masuk ke perairan.
Sementara itu, sensor kualitas air JALA membantu petambak mengurangi penggunaan bahan kimia untuk menstabilkan pH atau mengatasi blooming alga. Karena parameter air termonitor dini, penanganan dapat dilakukan dengan cara fisik atau biologis terlebih dahulu. Pada tambak mitra JALA di Banyuwangi, penggunaan kapur dan probiotik turun 30 persen setelah tiga bulan pemakaian sensor.
Proyeksi Karbon Biru dari Tambak Ramah Lingkungan
Penerapan budidaya presisi membuka peluang bagi tambak untuk masuk dalam skema kredit karbon biru. Tambak yang mampu membuktikan penurunan emisi metana melalui pengelolaan pakan dan sedimen dapat menjual kredit karbon di pasar sukarela. Inisiatif ini mulai diuji di beberapa tambak udang di Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.
Dengan kombinasi IoT, otomatisasi, dan kesadaran lingkungan, sektor akuakultur Indonesia berpotensi menjadi contoh budidaya protein hewani yang lebih rendah emisi di Asia Tenggara.
